
Jakarta - Di tengah limpahan data yang dihasilkan dalam aktivitas organisasi, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) tekankan pentingnya kemampuan mengolah dan menyajikan data menjadi informasi yang bernilai sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Setiap hari kita selalu dikelilingi data. Tantangan saat ini bukan lagi bagaimana mencari data, tetapi bagaimana mengolah dan memanfaatkannya agar memberikan nilai tambah dalam pengambilan keputusan,” ujar Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Joko Hadi Wibowo pada pembukaan kegiatan Kelompok Berbagi Semangat dan Pembelajaran (Kopi Senja) Session 3 Episode 4 dengan tema Speak Through Data yang digelar pada hari Senin (22/06).
Joko menjelaskan bahwa pengolahan data yang baik dapat membantu menghasilkan keputusan yang lebih akurat, sekaligus memudahkan penyampaian informasi kepada publik maupun pemangku kepentingan. Karena itu, kemampuan mengolah dan mengomunikasikan data menjadi kompetensi yang semakin penting bagi setiap pegawai
Senada dengan Joko, Business Presentation Designer, Aditya Iman selaku narasumber menyampaikan bahwa organisasi pada umumnya tidak mengalami kekurangan data. Menurutnya banyak organisasi memiliki akses terhadap data dalam jumlah besar dari berbagai sumber, namun tidak semuanya mampu mengolah informasi tersebut menjadi arah tindakan yang jelas. Kondisi ini sering menimbulkan information overload, yaitu situasi ketika banyaknya data justru membebani proses berpikir dan memperlambat pengambilan keputusan. Akibatnya, peluang dapat terlewat, prioritas menjadi kabur, dan respons organisasi terhadap perubahan menjadi kurang optimal.
“Kita organisasi bukan kekurangan data, ada datanya. Yang jadi masalah, data yang sudah ada itu benar-benar digunakan semestinya sehingga keputusannya benar,“ jelasnya
Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan perubahan cara pandang dalam mengelola data. Data tidak cukup hanya dikumpulkan dan dilaporkan, tetapi harus mampu menghasilkan insight yang relevan dan dapat ditindaklanjuti. Kualitas keputusan strategis sangat ditentukan oleh kemampuan menyederhanakan kompleksitas data menjadi pesan yang jelas dan mudah dipahami.
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah D-A-T-A Mindset, yaitu Detect, Analyze, Translate, dan Action. Tahap pertama Detect, yakni menekankan kemampuan mengenali pola, tren, maupun anomali yang sering luput dari perhatian. Kemudian, Analyze dilakukan untuk memahami akar penyebab suatu fenomena, bukan sekadar membaca angka di permukaan. Tahap berikutnya adalah Translate, yaitu menerjemahkan hasil analisis ke dalam bahasa yang relevan bagi pengambil keputusan. Pada tahap ini, data diubah menjadi narasi yang mampu menjawab pertanyaan strategis dan memberikan konteks yang mudah dipahami. Terakhir, Action yakni memastikan bahwa seluruh proses analisis menghasilkan rekomendasi yang jelas, terukur, dan dapat dieksekusi.
Perbedaan mendasar terletak pada orientasi penggunaan data. Pendekatan reporting data berfokus pada penyampaian fakta dan angka historis dengan pertanyaan utama "apa yang sedang terjadi". Sementara itu, pendekatan driving decision berfokus pada tindakan yang harus diambil dengan pertanyaan utama "keputusan apa yang perlu dilakukan". Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan data tidak diukur dari banyaknya laporan yang dihasilkan, melainkan dari sejauh mana data mampu mendorong perubahan dan menghasilkan dampak nyata.
Transformasi dari budaya pelaporan menuju budaya pengambilan keputusan berbasis data menjadi kebutuhan penting bagi setiap organisasi yang ingin tetap adaptif, responsif, dan mampu menghadapi dinamika yang terus berkembang. Data yang efektif bukanlah data yang paling banyak disajikan, melainkan data yang mampu menggerakkan keputusan dan menghasilkan aksi.
“Anda bukan lagi sebagai seorang pelapor angka. Tapi apa yang perlu teman-teman sampaikan kepada pimpinan (adalah) rekomendasi solusi. Sehingga keputusannya tepat dan berdampak. Pemimpin nggak cuma butuh data, tapi pemimpin butuh arah dan dasar yang kuat untuk mengambil keputusan,” jelas Aditya.
Kegiatan dilanjutkan dengan simulasi kelompok yang melibatkan sedikitnya lima peserta pada setiap kelompok. Dalam sesi ini, peserta diajak menerapkan konsep yang telah dipaparkan melalui studi kasus dan pembahasan bersama untuk mengidentifikasi permasalahan, menganalisis data, serta menyusun rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti dalam pengambilan keputusan.
(RAW)