Jakarta, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerima audiensi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Selayar dalam rangka membahas usulan pembangunan fasilitas penyimpanan (storage tank) Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Kepulauan Selayar. Langkah strategis ini diproyeksikan menjadi salah satu solusi penguatan ketahanan energi nasional sekaligus memperlancar distribusi BBM di kawasan timur Indonesia.
Selain sebagai agenda tindak lanjut dari surat permohonan Bupati Kepulauan Selayar pada 9 Maret 2026, pertemuan yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Ditjen Migas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam di Kantor Ditjen Migas, Gedung Ibnu Soetowo Jakarta, Senin (7/7), ini juga sekaligus menjadi wadah koordinasi antara Pemerintah pusat dan daerah dalam menjawab tantangan rantai pasok energi di wilayah kepulauan sekaligus mendukung Program Prioritas Nasional di sektor energi.
Rizwi dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik inisiatif dan kesiapan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar dalam menawarkan wilayahnya sebagai infrastruktur penyangga ketahanan energi nasional.
“Kami mengapresiasi dan mencatat usulan dari Pemda Selayar. Saat ini Pemerintah memang tengah memikirkan penguatan cadangan energi nasional agar tidak rentan terhadap dinamika global. Usulan dari Pak Bupati ini bisa menjadi salah satu titik alternatif yang sangat strategis untuk mengembangkan storage BBM di Indonesia, khususnya untuk memperkuat pasokan dan ketahanan energi di kawasan Timur Indonesia,” pungkas Rizwi.
Rizwi menambahkan bahwa hasil pembahasan dari audiensi ini akan dilaporkan secara langsung kepada Direktur Jenderal Migas dan Menteri ESDM sebagai bahan evaluasi serta pertimbangan dalam perencanaan infrastruktur penyimpanan energi ke depan.
Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali pada kesempatan yang sama juga memaparkan urgensi pembangunan storage tank di daerahnya. Sebagai wilayah yang terdiri dari 130 pulau (30 pulau berpenghuni) dan terpisah dari daratan utama Pulau Sulawesi, Selayar sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut dari Terminal BBM Kota Makassar yang harus ditempuh melalui jalur laut dengan jarak tempuh sekitar 170 hingga 190 kilometer atau sekitar 8 hingga 10 jam pelayaran. Pihaknya juga mengungkapkan bahwa hambatan distribusi musiman sering kali berdampak langsung pada stabilitas ekonomi masyarakat dan para nelayan.
“Tantangan yang kami hadapi selama ini, setiap musim barat yang berlangsung sekitar empat hingga lima bulan, distribusi BBM menuju Kepulauan Selayar sering terganggu akibat cuaca buruk. Jika terputus dua sampai tiga hari saja, harga BBM di kepulauan bisa melonjak tinggi hingga merugikan nelayan tradisional kami. Karena itu, kami mengusulkan pembangunan storage tank agar pasokan di daerah kami aman, sekaligus kami menawarkan Selayar sebagai hub nasional karena letak kami pas berada di tengah jalur pelayaran internasional ALKI II dan ALKI III,” papar Natsir Ali.
Untuk mendukung realisasi proyek strategis tersebut, Natsir Ali menegaskan bahwa Pemkab Selayar telah menyiapkan regulasi tata ruang yang matang, antara lain dari sisi kesiapan lahan, telah dialokasikan lahan seluas 2.000 hingga 3.000 hektar yang sudah disahkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Pembangunan fasilitas storage tank BBM yang diusulkan Pemkab Kepulauan Selayar ini dirancang sebagai fasilitas logistik energi yang terintegrasi dengan sistem transportasi laut, antara lain seperti tangki timbun BBM, dermaga kapal tanker (jetty), sistem pipa distribusi BBM, fasilitas bongkar muat BBM serta sistem keamanan dan pengendalian lingkungan.
Dalam rencana usulan tersebut, estimasi kebutuhan harian daerah untuk BBM jenis Solar sekitar 30 hingga 50 KL dengan rencana kapasitas storage tank tahap awal sebesar 6.000 KL, sementara untuk BBM jenis Pertalite membutuhkan sekitar 20 hingga 40 KL per hari dengan kapasitas storage tank tahap awal sebesar 4.000 KL. Untuk BBM jenis Pertamax, kebutuhan hariannya diperkirakan berkisar antara 5 hingga 10 KL dengan rencana kapasitas storage tank tahap awal sebesar 2.000 KL. Secara keseluruhan, total estimasi kebutuhan harian daerah mencapai 70 hingga 90 KL per hari, dengan total kebutuhan kapasitas storage tank untuk ketiga jenis BBM tersebut sebesar kurang lebih 12.000 KL, sehingga kapasitas storage tank tahap awal yang direncanakan diperkirakan berada pada kisaran 10.000 KL hingga 30.000 KL.
Melalui audiensi ini, Rizwi menyampaikan bahwa Ditjen Migas berkomitmen untuk terus memfasilitasi koordinasi antar pemangku kepentingan, termasuk mengkaji aspek teknis dan keekonomian bersama Badan Usaha terkait seperti PT Pertamina (Persero). Langkah ini diharapkan dapat merealisasikan infrastruktur energi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan pasokan BBM di Kepulauan Selayar, tetapi juga memperpendek rantai distribusi energi di perairan Nusantara, khususnya di wilayah timur Indonesia. (KDB)