

Bali, Pemerintah terus mendorong kerja sama strategis sektor energi di tengah dinamika geopolitik global guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi nasional. Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi (Migas) Hendra Gunawan saat membuka agenda The 16th Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) yang diselenggarakan di The Meru Hotel, Bali, Rabu (28/10).
Direktur Pembinaan Program Migas Hendra Gunawan dalam forum tahunan tersebut hadir memimpin delegasi Indonesia mewakili Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Hendra menekankan pentingnya menjaga hubungan bilateral dan komunikasi yang intensif di tengah dinamika geopolitik global yang dinamis serta lonjakan permintaan energi yang terus meningkat.
“Sektor energi global saat ini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketahanan energi, keterjangkauan, keberlanjutan, serta ketidakpastian geopolitik kini makin saling terhubung erat. Dalam konteks ini, industri minyak dan gas bumi tetap memainkan peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pembangunan industri, dan ketahanan energi nasional,” pungkas Hendra.
Hendra menjelaskan bahwa saat ini bagi Indonesia mempertahankan serta meningkatkan kinerja hulu migas tetap menjadi prioritas nasional. Walaupun percepatan pengembangan energi terbarukan dan inisiatif transisi energi terus digalakkan, migas diperkirakan masih akan menjadi bagian esensial dari bauran energi nasional untuk beberapa dekade mendatang. Oleh karena itu, inovasi, efisiensi, dan kolaborasi menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya.
“Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Indonesia terus mendorong penyempurnaan skema ketentuan fiskal, meningkatkan kepastian regulasi, serta menawarkan insentif menarik yang dirancang untuk mengurangi risiko investasi pada aset-aset matang. Dengan pemanfaatan metode secondary and tertiary recovery, digitalisasi mutakhir, dan modernisasi pencitraan bawah permukaan (subsurface imaging) hingga optimasi struktur dan sumur idle, kami bertujuan untuk membuka potensi cadangan migas nasional yang sebelumnya dinilai kurang ekonomis,” papar Hendra.
Selain hulu migas konvensional, forum ini juga menyoroti berbagai peluang kolaborasi strategis lainnya, antara lain seperti pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS/CCUS) melalui kolaborasi riset dan implementasi praktis antara LEMIGAS dan KIGAM, serta penyelarasan regulasi dan potensi hub regional bersama Pertamina untuk mendorong pengembangan CCS lintas batas (cross-border CCS); kemitraan strategis hulu migas untuk mendorong optimasi sumur idle, pemanfaatan kembali platform lepas pantai, hingga kerja sama teknis dan finansial seperti keterlibatan Posco International dalam eksplorasi Blok Bunga serta Studi Bersama (Joint Study) Talawang/Srimala; penguatan rantai pasok mineral kritis, daur ulang limbah industri, serta penjajakan energi masa depan seperti panas bumi, biometana, dan hidrogen.
Melalui penyelenggaraan forum IKEF ke-16 ini, Hendra berharap seluruh rangkaian diskusi dan business session yang berlangsung dapat melahirkan gagasan konkrit serta memperkuat kemitraan investasi yang transparan, saling menguntungkan dan berkelanjutan antara Indonesia dan Korea Selatan. (KDB)