Dirjen Migas Tekankan Pentingnya Sinergi, Inovasi Teknologi dan HSSE Dalam Upaya Peningkatan Produksi Migas

Berita



Jakarta,
Sinergi dan inovasi teknologi antara Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan mitra swasta merupakan salah satu upaya strategis dalam rangka percepatan peningkatan produksi migas untuk menjawab tantangan defisit pasokan dan kebutuhan minyak bumi dan BBM, serta mengejar target swasembada energi nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman saat membuka acara Sosialisasi Konsep Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT) di lingkungan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Hotel Bidakara Jakarta, Jumat (24/4).

“Situasi geopolitik global saat ini menuntut kekompakan yang luar biasa. Dalam dua bulan terakhir kita terus memantau situasi. Kekompakan seluruh stakeholder, Pemerintah dan BUMN menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas energi kita,” papar Laode.


Laode juga mengungkapkan bahwa meskipun produksi minyak nasional tahun 2025 berhasil melampaui target APBN, angka tersebut masih belum mencukupi kebutuhan domestik yang terus meningkat. “Capaian ini menjadi momentum positif di tengah tren penurunan produksi dalam satu dekade terakhir. Namun, dengan realisasi di kisaran 600 ribu barel per hari, kita masih harus bekerja keras mengimbangi konsumsi nasional yang mencapai 1,5 juta barel per hari,” tambahnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral melalui kewenangannya telah menerbitkan Permen No. 14 Tahun 2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian Wilayah Kerja untuk Peningkatan Produksi Migas. Regulasi ini antara lain membuka jalan bagi skema Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT), dimana Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dapat menggandeng mitra yang kompeten untuk mengelola sumur/lapangan idle (tidak aktif) maupun sumur/lapangan yang sudah berproduksi dengan dukungan teknologi terbaru dan tepat guna.


Sejalan dengan upaya peningkatan produksi migas, Laode juga menekankan pentingnya pemenuhan standar keamanan dan keselamatan kerja serta pengelolaan lingkungan atau Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). Pihaknya menganalogikan aspek keamanan dan keselamatan kerja sebagai fondasi utama dalam industri migas.

“Saya ingin sampaikan bahwa HSSE ini kalau dalam membangun rumah ibaratnya adalah baseline atau fondasi. Kalau fondasinya tidak kuat, maka rumah yang kita bangun itu akan rapuh. Saya juga ingin mengapresiasi Pertamina yang menjadikan ini prioritas dalam setiap upaya peningkatan lifting,” papar Laode.


Pemerintah berharap melalui sosialisasi ini Pertamina serta calon mitra atau provider teknologi yang nantinya akan bekerjasama dengan Pertamina dapat berkomitmen untuk melakukan upaya yang tepat dan cepat, baik secara teknis maupun finansial dalam implementasi KSOT.

“Semoga semua yang hadir pada hari ini bersama-sama dapat bersinergi dan berkontribusi nyata dalam upaya peningkatan produksi untuk mewujudkan ketahanan, kemandirian dan swasembada energi,” tutup Laode. (KDB)

Kementerian ESDM
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi
Gedung Ibnu Sutowo Jl. H.R Rasuna Said Kav. B-5, Jakarta 12910
Telp: 021-5268910. Fax: 021-5268979.
Media Sosial
Call Center
136
Copyright © 2026. Kementerian ESDM Ditjen Migas. All Rights Reserved.