CISEM dan DUSEM Jadi Kunci Integrasi Jaringan Gas Nasional

Berita

Jakarta – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengakselerasi pembangunan infrastruktur gas bumi sebagai fondasi utama distribusi energi nasional.

 

Dalam diskusi Energy Afternoon Talk bertajuk “Menjemput Peluang Besar Infrastruktur Migas di Tengah Kebutuhan Energi dan Industrialisasi Nasional,” Kamis (23/04), Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi, Agung Kuswardono menyampaikan bahwa jaringan pipa merupakan konsep paling ideal untuk distribusi energi dalam skala besar. Ia menjelaskan bahwa infrastruktur migas di Indonesia bagian barat (Sumatera–Jawa) sudah relatif matang, dengan jaringan pipa gas yang terbangun sejak era 1980 hingga 1990-an dan terus berkembang hingga saat ini.

Lebih lanjut Agung menambahkan bahwa proyek Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang (CISEM) Tahap I dan II dengan Pipa Transmisi Gas Bumi Dumai-Sei Mangkei (DUSEM) di Sumatera merupakan bagian penting dalam menyambungkan jaringan pipa gas dari Sumatera hingga Jawa Timur. Konektivitas ini diharapkan akan memperkuat peran jaringan pipa sebagai backbone Nasional dalam mendukung distribusi energi yang andal dan terintegrasi.

 

“Seperti sudah dijelaskan di awal bahwa Pemerintah sudah menyelesaikan CISEM Tahap I dan II. Ini legacy Ditjen Migas Kementerian ESDM  bisa menyambungkan pipa dari ujung Sumatera sampai ke Jawa Timur, dan pipa ini kalau sudah tersambung menjadi pipa terpanjang se-Asia,” tegasnya pada acara diskusi yang digagas Asosiasi Pemasok Energi Minyak dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO).

 

Dihadapan para pelaku usaha minyak dan gas bumi tersebut, Agung menyampaikan fokus Pemerintah saat ini diarahkan pada percepatan penyelesaian proyek pipa DUSEM. Proyek konstruksi sepanjang kurang lebih 540 km ini merupakan investasi krusial karena membuka akses pasar gas yang sebelumnya terbatas. Pembangunan pipa tersebut menjadi enabler bagi lapangan gas baru yang sebelumnya tertahan karena tidak ada infrastruktur.

“Lapangan Andaman misalnya, memiliki potensi produksi sekitar 300 MMSCFD. Saat ini pasar lokal di Aceh & Sumatera hanya mampu menyerap sekitar 160 MMSCFD. Sisa pasokan perlu dialirkan ke Jawa melalui pipa, “ jelas Agung menegaskan pentingnya pembangunan pipa tersebut.

Pengembangan lapangan migas Andaman sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pipa. Terlebih fleksibilitas dan desain Jaringan pipa dirancang fleksibel (dua arah). Bisa mengalirkan gas dari barat ke timur atau sebaliknya. Hal tersebut mendukung distribusi gas yang  saat terjadi surplus atupun defisit di wilayah tertentu.

Selain mendorong investasi hulu migas, adanya pembangunan pipa gas tersebut juga mendukungan terhadap peningkatan produksi (lifting) migas nasional. Agung mencontohkan bahwa saat ini Blok Rokan membutuhkan gas sebagai steam flood untuk meningkatkan produksi minyak, dimana kebutuhan tersebut juga akan disuplai dari jaringan pipa.

Berbeda untuk wilayah Indonesia Bagian Timur, menurut Agung pengembangan Infrastruktur di Indonesia Timur lebih menantang dan mahal. Konsep ini tengah dikaji lebih lanjut, meskipun untuk wilayah tertentu seperti Sulawesi tetap dipertimbangkan pembangunan pipa yang saat ini masih dalam tahap studi dan evaluasi hasilnya.  Selain itu Pemerintah juga tengah mengkaji alternatif solusi dengan membangun LNG (Liquefied Natural Gas) karena dinilai lebih fleksibel untuk wilayah yang belum terjangkau pipa.

“Karena sebenarnya konsep Indonesia bagian timur belum terlayani semuanya. Sebetulnya kalau kita bicara harga bisa dikompensasi dengan kesediaan. Kalau tersedia, mungkin harga bisa diakses oleh  semua pihak. Jadi LNG itu juga jadi bagian dari  kajian yang sudah kita lakukan termasuk CNG, “ jelas Agung lebih lanjut.

Selain LNG, pemerintah juga mengkaji pemanfaatan CNG sebagai solusi distribusi melalui skema stasiun pengisian CNG. Skema yang dikembangkan adalah membangun stasiun CNG, kemudian gas didistribusikan ke wilayah tertentu dan dilanjutkan dengan jaringan pipa skala kota (city gas). Pendekatan ini diharapkan mampu memperluas akses energi secara lebih efisien dan menjangkau daerah yang belum terhubung jaringan pipa besar.

“Kita bagaimana membangun suatu stasiun pengisian CNG, kemudian CNG itu kita bawa ke suatu wilayah. Jadi kita bikin jaringan pipa seperti City Gas,” jelasnya.

Mengakhiri paparan diskusi, Agung berharap pembangunan infrastruktur gas bumi dapat terus berjalan dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, sehingga mampu memperkuat distribusi energi nasional.

Senada dengan Agung, Wakil Ketua Umum ASBEPINDO Jay Singgih menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur dan konektivitas transportasi energi sangat krusial. Menurutnya sumber energi belum dapat dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan infrastruktur dan tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Padahal, suatu sumber energi baru memiliki nilai apabila dapat didistribusikan dan dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat.

Menutup diskusi tersebut, Jay juga menyampaikan harapan agar pelaku usaha migas dapat memperoleh kejelasan arah kebijakan pemerintah, serta memperkuat kolaborasi guna mendorong pengembangan infrastruktur migas yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

“Maka daripada itu infrastruktur, komersialisasi, transportasi sangat penting dan tentu rekan-rekan (Badan Usaha migas) sangat mengharapkan insight terkait bagaimana perencanaan Pemerintah terkait infrastruktur migas dan semoga kita bisa kolaborasi lebih, “ ungkap Jay mengakhiri.

(RAW)

 

 

Kementerian ESDM
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi
Gedung Ibnu Sutowo Jl. H.R Rasuna Said Kav. B-5, Jakarta 12910
Telp: 021-5268910. Fax: 021-5268979.
Media Sosial
Call Center
136
Copyright © 2026. Kementerian ESDM Ditjen Migas. All Rights Reserved.