Jakarta – Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) gelar kegiatan diskusi bersama PT Pertamina Persero beserta Sub Holding Hulu dan Hilir Migas, untuk perkuat komitmen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada, Senin (19/01).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman dalam sambutannya menyampaikan bahwa adanya Forum HSSE antara Ditjen Migas dan PT Pertamina (Persero) dilaksanakan dalam rangka memperingati Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional tahun 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ditjen Migas mengundang jajaran PT Pertamina dan pemangku kepentingan terkait untuk bersama-sama melakukan evaluasi, penguatan, serta peningkatan implementasi K3 di seluruh wilayah kerja migas.
“Sekali lagi saya sampaikan Bapak ibu sekalian bahwa keselamatan atau HSSE ini adalah baseline kita di sub sektor Migas, kita bisa memikirkan target-target lain yang kita capai ketika ini berada di dalam situasi yang terkendali dan berjalan dengan baik. Tapi manakala ini ada terganggu, maka kita akan terkendala juga untuk mencapai target-target yang lainnya,” tegas Laode pada acara yang di gelar di Gedung Ibnu Sutowo.
Laode mencatat bahwa di tahun 2025 Pertamina mengalami beberapa kejadian fatality 7 di sektor hulu dan 4 di sektor hilir migas, dimana kejadian-kejadian tersebut paling banyak disebabkan oleh keterlibatan pihak ketiga. Oleh karena itu, Laode berpesan agar Pertamina dapat melakukan review terhadap kejadian tersebut sekaligus memeriksa kembali ketentuan-ketentuan yang mengatur kerja sama antara Pertamina dengan pihak ketiga.
Dihadapan para peserta, Laode juga mengingatkan pentingnya keseriusan semua pihak dalam melakukan monitoring dan pengawasan K3, serta membangun ekosistem pengelolaan K3 yang profesional, andal, dan kolaboratif.
“Hadirin sekalian, Tema Bulan K3 Nasional tahun 2026 ini, yang juga menjadi napas forum kita hari ini adalah Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif,” imbuhnya.
Dijelaskan Laode bahwa “Professional” menekankan bahwa pengelolaan HSSE harus berbasis kompetensi, standar praktik terbaik (best practice), dan integritas. Profesionalisme tercermin dari leadership yang kuat serta pengambilan keputusan berbasis data dan keberanian untuk mengatakan "tidak" pada praktik kerja yang tidak selamat.
Kemudian “Andal” berarti bahwa sistem HSSE termasuk didalamnya keandalan instalasi dan peralatan harus tetap efektif dan konsisten dalam melindungi pekerja, Masyarakat umum dan kondisi lingkungan, baik dalam situasi normal maupun saat menghadapi keadaan darurat atau krisis yang dibangun melalui perencanaan matang dan evaluasi yang komprehensif.
Terakhir, “Kolaboratif” artinya bahwa keselamatan merupakan tugas bersama dan peningkatan kolaborasi para pihak antara pemerintah, manajemen Pertamina, dan para pekerja adalah kunci utama untuk berbagi praktik baik dan membangun kepercayaan.
Mengakhiri sambutannya, Laode berharap forum HSSE tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dan memperbaiki sistem operasional migas yang aman, andal serta akrab lingkungan. Pihaknya juga berharap semua hal baik yang sudah tercapai di tahun 2025 dapat dipertahankan dan kejadian fatality di tahun 2025 dapat menjadi lesson learned di tahun 2026.
“Hal-hal baik yang sudah dicapai di tahun 2025 mohon dipertahankan. Kemudian terjadinya beberapa kejadian yang tidak diharapkan di tahun 2025 untuk menjadi pelajaran buat kita semua, sehingga tahun 2026 ini kita bisa berjalan lebih baik dan lebih terkendali,” pungkas Laode mengakhiri.
Acara dilanjutkan dengan kegiatan penandatanganan Komitmen Keselamatan Migas oleh Dirjen Migas dan Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Noor Arifin Muhammad, diikuti para peserta Forum HSSE.
(RAW)