Tingkatkan Kapasitas Produksi Lampaui 20 Persen, Menteri Arifin Apresiasi Capaian Lapangan Banyu Urip

Bojonegoro, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif didampingi Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengunjungi Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, di Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (22/4). Lapangan ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi lebih dari 20% dengan fasilitas yang ada dan menyumbang 30% produksi minyak nasional.

Lapangan Banyu Urip mampu meningkatkan kapasitas produksi yang melebihi original desain produksi rerata tahunan 165.000 barel per hari menjadi 235.000 barel per hari, dengan tetap mempertahankan operasi yang aman dan handal.

Atas capaian tersebut, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan apresiasinya. "Operasi migas di Lapangan Banyu Urip menorehkan suatu prestasi yang membanggakan karena bisa menaikkan kapasitas produksi lebih dari 20% dari fasilitas yang ada dan juga dilakukan secara aman. Safety record-nya juga bagus," katanya disela-sela kunjungan kerja tersebut.

Menteri ESDM mendorong potensi migas yang ada Blok Cepu juga dapat diberdayakan untuk meningkatkan produksi migas nasional. "Kita tahu masih ada potensi-potensi migas lagi di sini dan itu harus diberdayakan," ujarnya.

Tahun 2020, rata-rata produksi Lapangan Banyu Urip sekitar 218.000 barel per hari dan produksi saat ini sekitar 210.000 barel per hari. Blok Cepu akan menyumbangkan pendapatan kepada negara sekitar US$ 45 miliar di harga minyak sekitar US$ 70 per barel selama jangka waktu kontrak kerja kerja sama.

Lapangan Banyu Urip pada tahun 2020 sempat menyentuh produksi puncaknya sebesar 300.000 barel per hari. Capaian ini di atas ekspektasi dan setelah 5 tahun berproduksi, hasil dari blok tersebut masih terbilang bagus.

Produksi awal lapangan Banyu Urip dimulai pada Desember 2008 melalui fasilitas produksi awal yang mulai berproduksi dengan kapasitas 20.000 barel per hari pada Agustus 2009. Melalui inovasi dan keunggulan dari manajemen proyek, produksi meningkat menjadi lebih dari 80.000 barel per hari pada saat dimulainya start-up di tahun 2015. Pada produksi puncaknya, Banyu Urip memproduksi sebanyak 165.000 barel per hari.

Namun lantaran karakteristik natural dari reservoir, produksi Banyu Urip sudah memasuki fase decline.

Kontrak Kerja Sama (KKS) Cepu ditandatangani pada 17 September 2005, mencakup wilayah kontrak Cepu di Jawa Tengah dan Jawa Timur. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Ampolex Cepu Pte Ltd., PT Pertamina EP Cepu dan empat Badan Usaha Milik Daerah: PT Sarana Patra Hulu Cepu (Jawa Tengah), PT Asri Dharma Sejahtera (Bojonegoro), PT Blora Patragas Hulu (Blora) dan PT Petrogas Jatim Utama Cendana (Jawa Timur) yang tergabung menjadi kontraktor di  bawah KKS Cepu.

ExxonMobil memegang 45% dari total saham partisipasi Blok Cepu sisanya PEPC 45% dan BUMD 10%. KKS Cepu ini akan berlanjut hingga 2035. Sebuah Perjanjian Operasi Bersama atau Joint Operating Agreement (JOA) telah ditandatangani oleh pihak-pihak kontraktor, di mana ExxonMobil berperan sebagai operator.

Lapangan Minyak Banyu Urip merupakan pengembangan pertama di dalam wilayah kerja Blok Cepu dan mencakup pengembangan lapangan minyak Banyu Urip, dengan penemuan cadangan minyak mentah yang diperkirakan sebanyak 450 juta barel yang diumumkan pada April 2001.

Fasilitas lapangan Banyu Urip, antara lain 3 wellpad dengan 29 sumur produksi dan 16 sumur injeksi, 1 sumur produksi di lapangan Kedung Keris terhubung ke wellpad C menggunakan pipa bawah tanah sepanjang 14 km. Pipa bawah tanah (72 km) melewati lebih dari 50 desa dan pipa bawah laut (23 km) ke Floating Storage and Offloading (FSO) vessel, FSO Gagak Rimang yang terletak di lepas pantai utara Tuban, dengan kapasitas penyimpanan sebesar 1,9 mmbbl dan rata-rata ukuran parcel 0,6-0,9 mmbbl.

Selain Dirjen Migas, mendampingi Menteri ESDM dalam kunjungan tersebut adalah Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati, President Exxon Mobil Irtiza Sayyed, Dirut PT Pertamina EP Cepu Awang Lazuardi, serta pihak terkait lainnya. (TW/KDB)