Samakan Persepsi, Pra Rakor Konversi BBM ke BBG Untuk Kapal Nelayan Digelar di Makassar

Jakarta, Untuk menyamakan persepsi terkait tata cara pendistribusian paket perdana konversi BBM ke BBG untuk kapal nelayan sasaran tahun 2020 bagi wilayah Kalimantan dan Sulawesi, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyelenggarakan Pra Rakor Program Konversi BBM ke BBG Untuk Kapal Penangkap Ikan Bagi Nelayan Sasaran di Kota Makassar, Jumat (11/9).

"Pra rakor ini merupakan kegiatan persiapan teknis rencana pendistribusian paket perdana Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan sehingga diharapkan pada saat pelaksanaan pendistribusian nantinya dapat berjalan dengan lancar dan hambatan yang kemungkinan terjadi dapat dimitigasi sejak dini," ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ego Syarial, dalam sambutan tertulisnya.

Pertemuan ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Inspektur Jenderal Kementerian ESDM Akhmad Syakhroza, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Alimuddin Baso, perwakilan dari Ditjen Migas Kementerian ESDM, Ditjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta PT Pertamina. Hadir pula dalam acara ini, perwakilan 22 kabupaten/kota dari wilayah Kalimantan dan Sulawesi yang akan menerima paket perdana konversi BBM ke BBG untuk nelayan.

Dalam kesempatan tersebut, Ego mengingatkan, proses pendistribusian paket perdana ini harus selesai pada pertengahan Desember 2020 untuk menghindari resiko lewat tahun anggaran.

Dia juga mengharapkan agar para peserta dapat memanfaatkan pertemuan ini untuk mendapatkan informasi yang jelas terkait rencana pendistribusian paket konversi ini dapar berjalan lancar. "Terutama bagi kabupaten atau kota yang baru tahun ini mendapatkan pembagian paket tersebut," ujar Ego.

Inspektur Jenderal Kementerian ESDM Akhmad Syakhroza dalam kesempatan ini menegaskan, program ini merupakan salah satu kegiatan Pemerintah yang manfaatmya dapat langsung dinikmati masyarakat.

Agar tujuan ini tercapai, Inspektorat Jenderal melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan ini, mulai dari awal hingga selesai. "Kita ini mengawal dari awal. Jangan sampai sudah terjadi (kesalahan), baru kita turun tangan. Keberhasilan program ini bukan hanya milik Ditjen Migas semata, tetapi juga institusi yaitu Kementerian ESDM. Karena itu harus kita jaga dari awal pelaksanaannya supaya dapat dipertanggungjawabkan," tutur Syakhroza.

Lebih lanjut dia mengatakan, pengawasan yang dilakukan Itjen juga bertujuan menghindari masyarakat mendapatkan hanya mendapatkan "harapan palsu" karena ternyata barang yang dibagikan tidak sesuai spesifikasi yang telah ditentukan.

Untuk memperkuat pengawasan, Kementerian ESDM juga menggandeng Kepolisian RI dan Kejaksaan RI. Itjen mengharapkan agar dinas perikanan di kabupaten dan kota dapat mendukung program ini dengan sungguh-sungguh.

"Mari kita bersama-sama mendukung program yang ditujukan untuk nelayan yang berhak menerimanya. Ini juga bukan pembagian yang pertama atau terakhir
Kalau ada yang belum dapat, sabar sedikit karena tahun depan ada juga," ujarnya.

Perlunya sinergi semua pihak, juga dikemukakan Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Alimuddin Baso. "Program ini diinisiasi Kementerian ESDM untuk membantu nelayan menggunakan bahan bakar yang lebih bersih dan murah. Di sisi lain, kegiatan ini juga merupakan aspirasi masyarakat melalui wakil-wakilnya di DPR. Dalam pelaksanaannya diperlukan sinergi semua pihak, termasuk dinas yang membidangi kelautan dan perikanan ," kata Ali.

Program Konversi BBM ke BBG untuk nelayan ini telah dilaksanakan selama 5 tahun. Awalnya untuk tahun 2020, direncanakan akan dibagikan 40.000 paket perdana. Namun lantaran pandemi Covid-19, dilakukan recofusing anggaran dan kegiatan ini ditiadakan. Dalam perjalanannya, DPR meminta agar program ini tetap dilaksanakan untuk membantu daya beli masyarakat dan diputuskan akan dibagikan sebanyak 25.000 paket perdana untuk nelayan. Paket akan dibagikan di 42 kabupaten dan kota di 17 provinsi.

Paket perdana konversi ini dibagikan Pemerintah secara gratis. Ali meminta agar dinas kabupaten atau kota tidak memungut biaya dari nelayan.

Irine Yulianingsih dari Ditjen Migas menambahkan, dukungan yang diharapkan dari dinas perikanan di kabupaten dan kota, antara lain memastikan daftar nama calon penerima, menyiapkan lokasi pembagian, sarana dan prasarana serta tempat untuk mencoba paket konversi.

Untuk pembagian paket perdana di wilayah Jawa dan Sumatera, pra rakor telah digelar pada 14 Agustus 2020 di Palembang.

Tahun 2020 ini merupakan tahun ke-5 untuk kegiatan pendistribusian konkit nelayan dilaksanakan oleh Ditjen Migas. Hingga tahun 2019, telah dibagikan 60.859 paket konkit nelayan.

Kriteria penerima paket perdana konverter kit untuk nelayan adalah nelayan pemilik kapal kurang dari 5 GT, kapal berbahan bakar bensin, memiliki daya mesin 13 HP, alat tangkap yang digunakan ramah lingkungan, belum pernah menerima bantuan sejenis, memiliki kartu nelayan dan terdaftar dalam Basis Data Terpadu (BDT).

Pembagian paket perdana konverter kit BBM ke LPG terdiri atas beberapa komponen yaitu mesin penggerak, konverter kit, as panjang, baling-baling, 2 buah tabung LPG 3 kg, as panjang dan baling-baling, serta aksesoris pendukung lainnya (reducer, regulator, mixer, dll). (TW)