Revitalisasi Museum Gawitra, Ditjen Migas Lakukan Benchmarking ke Museum De Tjolomadoe

Solo, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi berencana merevitalisasi Museum Minyak dan Gas Bumi (Migas) Graha Widya Patra (Gawitra) yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah. Museum yang saat ini tidak beroperasi dan rusak parah, nantinya diharapkan tidak hanya menjadi sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga sumber inspirasi, serta simbol karakter kepribadian bangsa.

"Museum tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, inspirasi, tetapi juga guru untuk memaknai masa lalu untuk masa depan. Selain itu juga menjadi simbol karakter kepribadian bangsa. Harapan kami, museum Indonesia dapat lebih berkembang, memberikan pelayanan terbaik, inovatif, edukatif dan informatif, serta tidak melupakan sejarah," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji.

Agar menarik bagi pengunjung, dikatakan Tutuka, desain Museum Gawitra nantinya harus menggambarkan sejarah migas di masa lalu, kini dan mendatang. "Desain dan isi museum harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, harus kekinian," tambahnya.

Terkait rencana tersebut, Tim Revitalisasi Museum Gawitra Ditjen Migas dipimpin Mukti Yunarso melakukan brenchmarking penataan dan pengelolaan museum ke Museum De Tjolomadoe di Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu dan Kamis (12-13/10).

De Tjolomadoe dipilih sebagai salah satu tujuan benchmarking karena museum yang semula merupakan bekas pabrik gula tua yang berdiri pada zaman penjajahan Hindia Belanda yaitu tahun 1861 oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV, kini diubah menjadi salah satu tujuan wisata yang kekinian, namun tetap tidak melupakan arsitektur dan peninggalan-peninggalannya seperti mesin-mesin raksasa pemroses tebu untuk dijadikan gula.

"Kami ingin memperoleh informasi, sekaligus belajar bagaimana mengelola museum ini agar dapat maju dan berkembang, serta menjadi tujuan wisata bagi semua kalangan. Semoga kami dapat memetik pelajaran dari pengelola Museum De Tjolomadoe dan dapat diterapkan di Museum Gawitra nantinya," kata Mukti.

Direktur Museum De Tjolomadoe I Nyoman Dana mengapresiasi kunjungan Tim Revitalisasi Museum Ditjen Migas karena hal ini menunjukkan kepedulian terhadap budaya dan warisan bangsa.

Pabrik Gula Colomadu tutup tahun 1998, setelah dihantam badai krisis moneter dan sebelumnya juga mengalami kesulitan mendapatkan pasokan tebu. Setelah 20 tahun tidak dimanfaatkan, Pemerintah memutuskan untuk merevitalisasi pabrik gula ini dan mengubahnya menjadi Museum De Tjolomadoe dengan PT Sinergi Colomadu sebagai pengelolanya.

Setelah direnovasi selama setahun mulai 8 April 2017 yang melibatkan arsitek, sejarawan dan kontraktor yang andal, serta konten kreator, Museum De Tjolomadoe yang telah berubah sebagai kawasan wisata dan bisnis ini, resmi dibuka untuk umum pada tahun 2018.

Museum De Tjolomadoe yang luas bangunannya 1,3 hektar di atas lahan 6,4 hektar, terdiri dari ruangan-ruangan yang diberi nama dengan nama asli ruangan saat menjadi PG Colomadu. Misalnya, Stasiun Gilingan, Stasiun Penguapan, Stasiun Ketelan, Besali Cafe, Angkingan Goela dan Sarkara Hall, serta Tjolomadoe Hall atau concert hall yang berstandar internasional. Sejumlah artis ternama bahkan telah melakukan konser di sini, seperti David Foster, Anggun, Kla Project, Sheila on 7 Band, Padi, serta Noah.

"Kalau konsepnya hanya museum saja, terus terang agak berat (menarik pengunjung). Di sini kami juga mengembangkannya menjadi convention hall dengan kapasitas besar, juga tempat makan yang kekinian seperti cafe. Jadi sumber pendapatan kami dari tidak hanya dari museum saja," terang Nyoman Dana.

Menurut Nyoman, kunci sukses Museum De Tjolomadoe dalam menarik pengunjung, antara lain terus melakukan inovasi yang disesuaikan dengan perkembangan terkini seperti konten digital. "Dengan inovasi-inovasi ini, kunjungan orang ke museum tetap tinggi. Memang ada cost yang harus dikeluarkan karena harga konten itu tidak murah. Karena itu perlu dikerjasamakan dengan pihak lain dan secara hitungan lebih murah dibandingkan kita investasi sendiri," jelas Nyoman.

Manajer De Tjolomadoe Ahmad Ridho menambahkan, Museum De Tjolomadoe menyajikan informasi mengenai sejarah Pabrik Gula Colomadu dari berbagai aspek, meliputi sejarah gula dunia, aspek ekonomi-politik, sosial-budaya, arsitektur serta geografis. "Konsep utama museum ini adalah cerita tentang kejayaan Pabrik Gula Colomadu dan juga industri gula di Indonesia," jelas Ridho.

Konsep ini disajikan dalam bentuk visual modern 2 dimensi dan 3 dimensi, sehingga pengunjung dari berbagai usia dapat menikmati pengalaman berbeda saat mempelajari tentang pabrik gula. "Sekarang ini eranya digitalisasi. Hari ini bagaimana kita membuat konten, orang cukup hanya melihat dan mendengar. Digitalisasi itu menjadi kunci utama, baru kemudian inovasi dalam kreativitas," ujar Ridho.

Diakui Ridho, tidak mudah mengumpulkan kembali barang-barang peninggalan pabrik gula ini. Namun demikian, dengan banyaknya dukungan, dokumen-dokumen dan mesin-mesin dapat dikumpulkan.

Dalam usia yang terbilang muda, Museum De Tjolomadoe telah mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain Penghargaan Abiwara Pariwisata Tahun 2019 dan New Achievement Asia Pacific Award Tahun 2020. Selain itu, mendapatkan Penghargaan Muri Tahun 2018 dan 2019.

Dalam mengelola museum, pengelola juga menggandeng UMKM, seperti penjualan suvenir. Sebelum pandemi, rata-rata pengunjung sekitar 1000 hingga 2000 orang per hari. Selama pandemi, pengunjung berkurang sekitar 50%.

Sekilas Gawitra
Museum Gawitra dibangun untuk memperingati 100 tahun pengusahaan migas di Indonesia. Museum ini diresmikan 20 April 1989 oleh Presiden RI yang kedua, Soeharto.

Pengelolaan Museum Gawitra telah beberapa kali berpindah instansi, antara lain PT Pertamina. Selanjutnya, sesuai dengan  Surat Kepala Kantor Piutang, Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta II Kementerian Keuangan kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Migas tahun 2017, bangunan Gedung Museum Gawitra adalah aset milik  Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Museum Gawitra berlokasi di Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) DKI Jakarta menempati lahan seluas 3 hektar dan bangunan seluas 11.049 meter persegi.

Museum Gawitra memiliki desain bangunan menyerupai anjungan minyak lepas pantai (offshore platform) dengan danau buatan di sisi depan. Museum ini merupakan salah satu tujuan utama para pengunjung TMII pada saat masih beroperasi.

Ruangan-ruangan di dalam museum, antara lain ruang pameran sejarah perminyakan. Di dalam ruangan ini, terdapat teater minyak yang memutar film pendek dan multislide mengenai asal mula serta hasil pengolahan minyak dan gas bumi di Indonesia.

Anjungan eksplorasi mengetengahkan eksplorasi migas, termasuk peragaan sejarah terjadinya cekungan migas. Selanjutnya, pengetahuan penerapan teknologi disajikan melalui pameran peralatan canggih yang mendukung proses pencarian dan pengolahan gas bumi.

Di luar gedung dipamerkan juga peralatan pengeboran minyak dan peragaan benda-bendaeksplorasi serupa menara bor tahun 1930-an, berbagai pompa angguk, sebuah truk logging tua, pompa bensin engkol, dan sebuah kilang minyak tua. (TW)