Genjot Eksplorasi, Kementerian ESDM Jajaki Kerja Sama dengan Lembaga Geosains Dunia

Jakarta, Pemerintah tiada henti berupaya meningkatkan kegiatan eksplorasi migas Indonesia. Satu diantaranya adalah menjajaki kerja sama dengan lembaga geosains dunia.

"Penjajakan kerja sama dengan institusi riset atau survei internasional bertujuan meningkatkan kualitas data melalui reprocessing dan reinterpretasi," ungkap Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ego Syarial dalam jumpa pers virtual, Rabu (5/8).

Upaya ini dilakukan Kementerian ESDM setelah mengambil pelajaran dari negara-negara lain yang berhasil menemukan cadangan baru yang relatif besar, setelah menjalin kerja sama dengan lembaga geosains dunia. Sebagai contoh, Mesir dan Norwegia.

"Kita belajar dari belahan dunia lain. Egypt (Mesir) yang baru saja masuk ke dunia migas, tiba-tiba mereka bisa menemukan giant discovery. Untuk satu lapangan gas saja, bisa produksi di atas 3-4 BSCF per hari. Bandingkan dengan kita yang totalnya 6 BSCF per hari. Kita belajar juga dari Norway yang menemukan giant discovery. Selain itu Gulf Mexico. Ternyata setelah kita pelajari, mereka bekerja sama reprocessing data dengan lembaga-lembaga geosains besar dunia. Ini yang sedang kita lakukan," papar Ego.

Pemerintah mengharapkan dengan menggandeng lembaga-lembaga geosains ini, Indonesia dapat menemukan cadangan migas yang besar. Selama ini penemuan cadangan migas Indonesia relatif kecil-kecil di bawah 100 juta barel. "Kita inginnya penemuannya sekelas Blok Cepu. Syukur-syukur sekelas Lapangan Minas. Jadi visi kita ke depan memang harus agresif di eksplorasi," tambahnya.

Upaya lain yang dilakukan Kementerian ESDM untuk mendukung kegiatan eksplorasi migas adalah transformasi perizinan migas secara online, kemudahan akses data hulu migas melalui Migas Data Repository (MDR) di mana saat ini sudah ada 21 member yang aktif melakukan akses data.

Pemerintah juga memberikan relaksasi kegiatan eksplorasi melalui kebijakan penggantian atau tambahan waktu eksplorasi. Sepanjang tahun 2019 hingga semester I tahun 2020, tercatat 18 wilayah kerja (WK) telah mendapatkan kebijakan tersebut.

"Kebijakan lainnya adalah perubahan kontrak bagi hasil cost recovery ke kontrak bagi hasil gross split, di mana terdapat 6 WK yang telah disetujui perubahan kontraknya. Dari jumlah tersebut, 4 WK masih berstatus eksplorasi dan 2 WK telah meningkat statusnya ke fase pengembangan," ujar Ego.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga Juli 2020, WK migas yang berstatus eksplorasi berjumlah 99 WK, terdiri dari 74 WK migas konvensional dan 26 WK migas non konvensional. Skema kontrak kerja sama 99 WK tersebut terdiri dari 81 WK menggunakan kontrak bagi hasil cost recovery dan 18 WK menggunakan kontrak bagi hasil gross split, di mana 4 diantaranya merupakan perubahan dati kontrak cost recovery ke gross split.

Sebagai informasi, kegiatan eksplorasi migas merupakan kegiatan untuk menemukan dan memperoleh cadangan migas baru. Kegiatan eksplorasi umumnya berupa seismik dan pemboran sumur.

Kegiatan pemboran sumur eksplorasi merupakan langkah awal untuk pembuktian keberadaan hidrokarbon di bawah permukaan. Sampai dengan Juli 2020, terdapat 8 pemboran sumur eksplorasi. (TW)