Gas Komoditas Penting Dukung Proses Transisi Energi

 

Jakarta, Kapasitas listrik nasional dapat ditingkatkan dengan pembangkit listrik berbasis gas yang ramah lingkungan sebelum pembangkit listrik energi terbarukan masuk dalam sistem kelistrikan nasional. Emisi yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik berbasis gas lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis batubara.

"Kita harapkan dalam masa transisi ini atau sebelum pembangkit energi bersih terbarukan masuk, bisa diisi dulu dengan memanfaatkan gas. Emisi yang dikeluarkan dari PLTGU ini lebih rendah jika dibandingkan dengan yang memakai batubara kurang lebih setengahnya," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif usai meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Riau berkapasitas 275 megawatt (MW) di Kawasan Industri Tenayan, Pekanbaru, Riau, Kamis (12/5).

Membangun pembangkit yang ramah lingkungan merupakan wujud komitmen Indonesia terhadap energi bersih kepada dunia internasional dengan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

"Indonesia akan berupaya mencapai target Net Zero Emission ditahun 2060, yang artinya akan ada 1,5 Giga Ton CO2 yang harus kita lenyapkan dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan pemanfaatan energi baru terbarukan yang kita ketahui semua. Kita memiliki sumber energi baru terbarukan yang bersih cukup besar dengan potensi yang mencapai ribuan gigawatt dan kita baru memanfaatkannya sedikit saat ini," jelas Arifin.

Selain potensi energi terbarukan yang besar, Indonesia juga saat ini masih memiliki gas yang potensinya cukup besar yang perlu diupayakan pemanfaatannya sebagai transisi energi dari fosil ke energi terbarukkan. "Gas ini komoditas yang penting terutama untuk mendukung proses transisi energi dari energi fosil berat ke menuju medium kemudian ke zero," lanjut Arifin.

Selain energi bersih, saat ini yang menjadi tantangan adalah bagaimana menghasilkan energi murah, selain terjangkau oleh masyarakat juga dapat mendorong investor menanamkan investasinya di Indonesia.

"Yang sangat penting lagi saat ini, kita harus bisa mengupayakan bagaimana energi ini bisa murah, listrik ini bisa murah selain untuk kepentingan masyarakat juga untuk kepentingan industri karena dengan competitiveness-nya harga energi ini akan memberikan dorongan investasi untuk bisa masuk kedalam negeri. Untuk itu kita jangan melupakan efisiensi pengoperasian unit-unit pembangkit listrik kita," sambung Arifin. (SF/TW)