
Jakarta — Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM bekerja sama dengan Energy Academy Indonesia (ECADIN) diskusikan peluang dan tantangan CCS lintas batas, Rabu (19/11).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman diwakili Direktur Teknik dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi, Noor Arifin Muhammad dalam pembukaan Focus Group Discussion (FGD) “Lessons on Cross-Border CCS and Policy Readiness”, Rabu (19/11) menyampaikan bahwa topik CCS lintas batas merupakan salah satu isu paling menantang dalam penyusunan regulasi CCS di Indonesia.
“Ini merupakan salah satu bagian penting yang di dalam pembahasan regulasi CCS khususnya di Indonesia, suatu tantangan yang memang harus senantiasa kita diskusikan secara intens Bapak Ibu sekalian,” ungkap Noor.
Secara regulasi, Pemerintah Indonesia berkomitmen tinggi dalam menerapkan CCS dalam rangka penurunan emisi secara global. Terbitnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2023 yang mengatur penerapan CCS di wilayah kerja migas, kemudian disusul dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon, menurut Noor semakin membuka lagi kesempatan untuk aktivitas CCS di wilayah terbuka.
“Peluangnya besar, tetapi tantangannya juga besar, terutama cross border ini perlu pembahasan intensif, dari aspek teknis hingga mekanisme serah terima dan potensi leakage,” ujarnya pada acara yang di gelar di Gedung Ibnu Sutowo tersebut.
Ia menambahkan bahwa sejak 2023 diskusi mengenai isu CCS lintas batas, terus berulang tanpa penyelesaian tuntas karena kompleksitasnya. Oleh sebab itu, komunikasi dan kolaborasi berkelanjutan antar stakeholder menjadi kunci dalam merumuskan regulasi yang kuat.
“Jadi untuk itulah menjadi relevan sekali pada siang hari ini, para narsumber akan berbagi pengalaman dan knowledge kepada kita terkait CCS cross border baik dari sisi technical artinya cross border seperti apa. Kalau nanti terjadi dispute terhadap titik-titik serah, kemudian ada leaks di tengah perjalanan ini bagaimana prakteknya,“ imbuh Noor.
Pada kesempatan yang sama Noor juga menyinggung soal implementasi CCS di Indonesia. Indonesia memiliki beberapa proyek potensial yang sebagian besar berada di wilayah kerja migas yang dioperasikan oleh Pertamina. Beberapa projek yang masih dalam proses pengembangan dan menjadi Projek Strategis Nasional (PSN) diantaranya seperti BP di Tangguh, termasuk FEED CCS dari Proyek Abadi, dan juga Cekungan Asri di Laut Jawa yang telah diusulkan sebagai Area Lisensi Penyimpanan untuk CCS lintas batas oleh Pertamina dan ExxonMobil.
Lebih lanjut Noor menjelaskan bahwa hal ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto dan juga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa Pemerintah Indonesia selalu berusaha semaksimal memastikan ketahanan energi bagi seluruh masyarakat melalui pendekatan 4A, yaitu Availability, Accessibility, Acceptability, dan Affordability. Hal tersebut merupakan amanat konstistusi dimana pengelolaan energi harus dilaksanakan berdasarkan kepentingan Nasional.
“Jadi itulah yang menjadi visi Kementerian ESDM, tentunya kita akan menjunjung hal tersebut dan terinci di dalam program-program yang akan kita jalankan. Jadi penurunan emisi dengan target kita NZE di tahun 2060 secara bertahap kita jalankan, salah satunya dengan CCS,” tegas Noor optimis.
Kegiatan FGD turut dihadiri perwakilan dari berbagai Kementerian dan Lembaga, antara lain Kemenko Perekonomian, Kementerian Investasi/BKPM, Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bappenas, Kementerian Perindustrian, Dewan Energi Nasional serta mengundang sejumlah perguruan tinggi seperti UI, UGM, ITB, UPN, Trisakti, dan Universitas Pertamina.
Dalam forum tersebut Ditjen Migas mengundang para pakar dan perwakilan dari negara yang telah berpengalaman menerapkan proyek CCS lintas batas untuk berbagi wawasan teknis, regulasi, dan praktik terbaik. Hadir sebagai pembicara Deputy Head of Mission Noerwegian Embassy Christian Netland yang menyampaikan tentang “Norway’s CCS Journey: Northern Lights Project,” dan juga Head of Asia Pacific Global CCS Institute Alex Zapantis yang menyampaikan tentang “Global CCS Projects: Insights & Best Practices.”
Melengkapi diskusi dari sisi Pemerintah hadir sebagai pembicara Inspektur Minyak dan Gas Bumi Ahli Muda, Ditjen Migas, Fahrur Rozi Firmansyah yang menyampaikan terkait “Policy and Regulatory Framework CCS Implementation in Indonesia” dan juga Chief Operating Officer ECADIN, Chandra Sri Sutama yang menyoroti soal “CCS as Economic Opportunity & Decarbonization Tool.”
Dari hasil paparan dan diskusi yang berlangsung, Noor berharap dapat memperoleh wawasan operasional dan praktik terbaik terkait CCS lintas batas di Indonesia. Ia juga berharap sinergi seluruh pihak terus diperkuat agar Indonesia dapat segera merealisasikan proyek CCS.
“Semoga diskusi hari ini bisa menjadi inspirasi nyata agar Indonesia dapat melangkah lebih maju dalam pengembangan CCS, khususnya yang berskala lintas negara,” tutup Noor.
(RAW)