Jakarta, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menyelenggarakan kegiatan "Sosialisasi Kesehatan Mental dan Manajemen Stres" bagi seluruh pegawai di lingkungan Gedung Ibnu Sutowo, Jakarta, Kamis (12/2). Kegiatan ini bertujuan untuk membekali pegawai dengan kemampuan mengelola tekanan di tengah tingginya dinamika kerja di sektor energi guna menjaga kinerja organisasi tetap maksimal.
Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam sambutannya menekankan bahwa beban kerja yang berlebihan tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga mental pegawai.
“Beban kerja yang terlalu banyak tentu dapat mempengaruhi seseorang, bukan hanya fisik, namun mental juga dapat terpengaruh karena perasaan stres yang timbul akibat beban kerja yang dianggap terlalu berat. Perasaan stres berlebih tidak hanya menciptakan emosi negatif namun juga membuat tingkat produktifitas pegawai menjadi rendah dan kesulitan untuk berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan,” pungkas Rizwi.
Rizwi menambahkan bahwa organisasi memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang sehat. "Organisasi perlu memperhatikan kondisi lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental pegawainya agar produktivitas tidak rendah dan konsentrasi tetap terjaga dalam menyelesaikan pekerjaan," jelasnya.
Kegiatan sosialisasi tersebut menghadirkan Dr. dr. Petrin Redayani Lukman, Sp.KJ, Subsp.P.K.(K) dan Adriana Amalia, M.Psi., Psikolog, CHT sebagai narasumber. Pada sesi pertama, Petrin memaparkan materi bertema “Mengenali Burnout, Ansietas, dan Depresi di Tempat Kerja”. Petrin menjelaskan bahwa stres merupakan reaksi alami tubuh, namun jika tidak dikelola (distres), dapat memicu masalah serius.
"Burnout adalah respons terhadap stres berkepanjangan di tempat kerja yang tidak dikelola secara baik sehingga menjadi kronik. Tiga ciri utama burnout yang perlu diwaspadai yaitu kelelahan fisik dan emosional, sikap sinis atau negatif terhadap pekerjaan, serta penurunan kinerja. Ciri utama burnout meliputi kelelahan fisik dan emosional, munculnya sikap sinis atau negatif terhadap pekerjaan, serta penurunan efikasi diri atau merasa tidak kompeten,” jelas Petrin.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Petrin menyarankan pengembangan resiliensi melalui teknik pengelolaan pikiran dan relaksasi. “Kita perlu melatih kemampuan pengelolaan stres dengan membuat pikiran alternatif yang lebih rasional dan mempraktikkan teknik mindfulness agar mampu menerima keadaan apa adanya,” tambahnya.
Pada sesi kedua, Adriana memaparkan materi bertema “Energi Terjaga, Kinerja Membara”. Adriana menjelaskan strategi praktis mengelola stres melalui pendekatan coping stress. Pihaknya juga menekankan pentingnya mengenali gaya coping masing-masing individu. "Kuncinya adalah resiliensi. Kita harus mampu bangkit kembali dari tekanan dengan cara mengatur regulasi emosi dan menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional serta personal," jelasnya.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Rizwi berharap para pegawai dapat menjaga kesehatan mental tetap prima sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsi secara maksimal serta tetap sehat secara holistik. “Sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan cara yang tepat dan efektif bagi seluruh pegawai Ditjen Migas untuk menjaga kesehatan mental tetap prima di tengah tuntutan pekerjaan yang dinamis,” pungkas Rizwi. (KDB)