Prabumulih – Direktur Teknik dan Lingkungan Migas melakukan Management Walkthrough ke sejumlah fasilitas strategis Pertamina (Persero) di Sumatera Selatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah c.q. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM untuk memastikan keandalan produksi minyak dan gas bumi, keselamatan pekerja, serta perlindungan lingkungan dalam rantai pasok energi nasional.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 20 hingga 21 November 2025 tersebut, Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Noor Arifin Muhammad memimpin langsung tinjauan enam fasilitas migas antara lain Stasiun Kompresor Gas dan Kepala Sumur di Prabumulih PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4, fasilitas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Prabumulih PT Pertamina, fasilitas Metering and Regulating Station (MRS) Jargas SOR I Gelumbang - Muara Enim PT Perusahaan Gas Negara, serta Refinery Unit (RU) III Plaju dan HSE Training Center Sungai Gerong PT Kilang Pertamina Internasional. Kunjungan dan inspeksi lapangan yang dilakukan Noor bersama tim dilakukan untuk memotret secara komprehensif rantai pasok distribusi minyak dan gas bumi mulai dari sumber produksi lapangan hulu, fasilitas pengolahan sampai dengan titik penyaluran, distribusi dan pemanfaatan migas.
Dalam pengarahannya Kamis (20/11), Noor menegaskan bahwa pengawasan berkelanjutan terhadap fasilitas dan sumber daya manusia merupakan aspek penting menjaga standar keamanan dan keberlangsungan operasi migas. Peninjauan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sumber produksi di lapangan hulu, proses pengolahan, hingga titik penyaluran energi ke masyarakat.
“Ketahanan energi nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya, tetapi juga pada keandalan operasi instalasi, keselamatan pekerja di lapangan, pelestarian lingkungan hidup dan keselamatan publik,“ tambah Noor.
Dalam kunjungan tersebut, Pertamina melaporkan bahwa wilayah kerja Prabumulih menjadi sorotan setelah mencatat kinerja produksi yang melampaui target. Hingga Oktober 2025, produksi minyak mencapai 10.423 BOPD atau 130% dari target, sementara produksi gas mencapai 117,84 MMSCFD atau 108% dari target.
Hasil produksi tersebut mengalir tidak hanya ke kilang RU III Plaju, tetapi juga ke rumah tangga, industri, fasilitas pupuk, serta mendukung pasokan energi ke Pulau Jawa. Hal ini menjadikan Prabumulih sebagai salah satu pilar utama ketahanan energi nasional. Kemudian, untuk kilang RU III Plaju, salah satu yang tertua di Indonesia, memiliki kapasitas pengolahan 120 MBSD, atau sekitar 12% kapasitas kilang nasional. Dengan hampir 1.000 pekerja organik, kilang ini memproduksi berbagai bahan bakar penting seperti Solar, Biosolar, Pertalite, Avtur, hingga material turunan seperti Nafta dan Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO). Keberadaan RU III Plaju bukan sekadar simbol sejarah, tetapi juga aset strategis dalam menjaga kontinuitas pasokan energi di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.
Pada kesempatan yang sama, SVP Policy Advocacy & Government Alignment Pertamina, Wianda Pusponegoro, menegaskan komitmen perusahaan terhadap standar keselamatan dan lingkungan.
“Pertamina memastikan seluruh fasilitas energi beroperasi dengan standar keselamatan tinggi. Hal ini sejalan dengan agenda transformasi perusahaan,” jelasnya.
Rombongan juga mengunjungi Training Center (TC) Pertamina Sungai Gerong, yang dilengkapi fasilitas pelatihan Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). Dalam kesempatan itu, tim pemadam kebakaran Pertamina menampilkan demonstrasi kemampuan di area Fire Ground sebagai bagian dari program peningkatan budaya keselamatan di seluruh unit operasi.