Menurutnya, gas
unconventional dapat dikembangkan berkat kemajuan teknologi. Karenanya, hal ini
seharusnya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Hingga saat ini, pemerintah
telah menerima pengajuan permintaan joint study shale gas dari 10 investor. Dalam melakukan joint study
tersebut, investor akan bekerja sama dengan 5 perguruan tinggi yang telah
ditunjuk pemerintah yaitu ITB, UGM, UPN, Universitas Trisakti dan Universitas
Padjajaran.
Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan pemerintah, hingga saat ini
terdapat 7 cekungan di
Shale
gas adalah
gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya
gas bumi. Proses yang diperlukan untuk mengubah batuan shale menjadi
gas, sekitar 5 tahun. Pemerintah saat ini tengah menyusun aturan hukum
pengembangan shale gas.
Sedangkan
CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan
disertai sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batu bara
hasil dari beberapa proses kimia dan fisika. CBM sama seperti gas alam conventional
yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya adalah CBM berasosiasi dengan batubara sebagai source rock dan reservoir-nya.
Sedangkan gas alam yang kita kenal, walaupun sebagian ada yang bersumber dari
batu bara, diproduksikan dari reservoir pasir, gamping maupun rekahan
batuan beku. Hal lain yang membedakan keduanya adalah cara penambangannya di
mana reservoir CBM harus direkayasa terlebih dahulu sebelum gasnya dapat
diproduksikan.
CBM diproduksi dengan cara terlebih
dahulu merekayasa batubara (sebagai reservoir) agar didapatkan cukup ruang
sebagai jalan keluar gasnya. Proses rekayasa diawali dengan memproduksi air (dewatering)
agar terjadi perubahan kesetimbangan mekanika. Setelah tekanan turun, gas batu
bara akan keluar dari matriks batubaranya. Gas metana kemudian akan mengalir
melalui rekahan batu bara (cleat) dan akhirnya keluar menuju lobang
sumur. Puncak produksi CBM bervariasi
antara 2 sampai 7 tahun. Sedangkan periode penurunan produksi (decline)
lebih lambat dari gas alam conventional.
Cadangan
CBM Indonesia tersebar dalam 11 cekungan. Dengan cadangan 453,3 TCF, Indonesia
termasuk nomor 6 di dunia, berdasarkan evaluasi yang dilakukan Advanced
Resources International, Inc (ARI) tahun 2003. Rusia menempati posisi
teratas dengan cadangan sekitar 450-2.000 TCF. Selengkapnya hasil evaluasi ARI mengenai
cadangan CBM di dunia, sebagai berikut:
- Rusia: 450-2.000 TCF
- China: 700-1.270 TCF
- Amerika Serikat: 500-1.500 TCF
- Australia/New Zealand: 500-1.000 TCF
- Kanada: 360-460 TCF
- Indonesia: 400-453 TCF
- Afrika bagian Selatan: 90-220 TCF
- Eropa bagian Barat: 200 TCF
- Ukraina: 170 TCF
- Turki: 50-110 TCF
- India: 70-90 TCF
- Kazakhstan: 40-60 TCF
- Amerika bagian Selatan/Meksiko: 50 TCF
- Polandia: 20-50 TCF.
Cadangan
CBM Indonesia terutama berlokasi di Sumatera Selatan sebesar 183 TCF, Barito
101,6 TCF, Kutai 80,4 TCF dan Sumatera Tengah 52,5 TCF.