Perkuat Swasembada Energi Nasional, Ditjen Migas Dorong Pembangunan Infrastruktur Gas Terintegrasi

Berita


Pekanbaru — Pemerintah terus memperkuat swasembada energi nasional melalui optimalisasi pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi, serta pembangunan infrastruktur gas bumi yang terintegrasi.

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas, Agung Kuswardono diwakili Koordinator Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Sugiarto dalam acara bertajuk “Sinema, Outlook Politik Ekonomi Migas Riau 2026–2030”, menyampaikan bahwa Pemerintah berkomitmen untuk mewujudkan swasembada energi melalui pendekatan 4 A yaitu Availability, Accessibility, Affordability, dan Acceptability, Sabtu (07/02).

Lebih lanjut Sugiarto menjelaskan Availability sebagai kondisi ketersediaan energi dan sumber energi baik dari dalam negeri maupun impor. Accessibility yaitu kemampuan untuk mengakses sumber energi, infrastruktur energi, termasuk tantangan geografis dan geopolitik. Affordability sebagai keterjangkauan biaya investasi energi baik biaya eksplorasi, produksi dan distribusi, serta keterjangkauan konsumen untuk membayar energi, dan terakhir Acceptability yaitu penerimaan masyarakat terhadap penyediaan energi terkait dengan lingkungan.

 

Pada acara seminar Nasional yang diseleggarakan DPN PERMIGASTARA bersama IAGI tersebut Sugiarto menegaskan arahan Bapak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia bahwa langkah strategis untuk mewujudkan swasembada energi sesuai Asta Cita Bapak Presiden dimulai salah satunya dengan penerapan transisi energi dan hilirisasi.

Dalam konteks transisi energi, Sugiarto menekankan peran gas bumi sebagai energi transisi yang strategis. Selain memiliki cadangan yang relatif lebih melimpah dibandingkan minyak bumi, gas bumi juga lebih ekonomis dan menghasilkan emisi yang lebih rendah, sehingga mendukung target penurunan emisi nasional.

“Gas bumi, termasuk LNG, menjadi pilihan utama dalam masa transisi energi karena lebih bersih dan andal, sekaligus mampu menjaga kesinambungan pasokan energi nasional,” jelasnya.

Selain itu di sektor hilir, penguatan infrastruktur menjadi fokus utama dimana saat ini tengah berlangsung pembangunan dua proyek strategis nasional, yakni Pipa Cisem Tahap II ruas Batang–Cirebon–KHT sepanjang 245 km dan Pipa Dusem (Dumai–Sei Mangkei) sepanjang 542 km yang menghubungkan wilayah Sumatera Utara dan Riau.

“Proyek Cirebon–Semarang (Cisem) telah mencapai 97% dan segera memasuki tahap penyelesaian. Adapun proyek Dumai–Sei Mangkei (Dusem) ditargetkan rampung pada akhir tahun 2027 sebagai bagian dari upaya penguatan konektivitas dan swasembada energi nasional,” tambah Sugiarto.

Pembangunan pipa ini dirancang untuk mengintegrasikan jaringan transmisi gas antarwilayah, membuka akses pasokan yang lebih luas bagi sektor industri dan pembangkit listrik, serta meningkatkan fleksibilitas distribusi energi nasional.

“Pembangunan pipa gas tidak hanya menjamin keandalan pasokan energi, tetapi juga menurunkan biaya transportasi gas sehingga harga gas menjadi lebih terjangkau,” tambah Sugiarto.

Selain mendukung swasembada energi, pembangunan infrastruktur gas bumi juga diharapkan memberikan dampak positif bagi daerah. Infrastruktur tersebut dapat menjadi katalis investasi hulu migas, mendorong pertumbuhan kawasan industri baru, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap energi yang lebih bersih, aman, dan terjangkau.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, Ditjen Migas optimistis sektor migas tetap menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung swasembada energi nasional dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, termasuk di Provinsi Riau dan kawasan Sumatera.

(RAW)

Kementerian ESDM
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi
Gedung Ibnu Sutowo Jl. H.R Rasuna Said Kav. B-5, Jakarta 12910
Telp: 021-5268910. Fax: 021-5268979.
Media Sosial
Call Center
136
Copyright © 2026. Kementerian ESDM Ditjen Migas. All Rights Reserved.