Selain Lifting Migas, Ini Hasil Capaian Kinerja Migas Semester I Tahun 2017

Jakarta, Evaluasi Kinerja Migas Semester I selain mengenai lifting migas 2017 yang telah dipaparkan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Ego Syahrial yang sudah hampir memenuhi dari target, dirinya juga menyampaikan di ruang Sarula Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa(8/8) terkait pipa gas bumi untuk target yang ditetapkan 12.600 km di tahun 2016, untuk pencapaiannya hingga tengah semester ini sudah ada sekitar 10.425 km dan untuk alokasi gas domestik dari target 62% saat ini sudah mencapai 60,4%.

Selain pipa gas, di sisi hilir migas, subsidi Bahan Bakar Minyak dan LPG 3 kg, Ego mengakui selalu semakin baik. Seperti halnya subsidi BBM yang sudah mendekati kondisi idealnya pada semester I yang sudah terealisasi sebesar 7,15 juta Kiloliter dari target yang ditetapkan sebesar 16,61 juta kilo liter. Selain itu untuk subsidi LPG 3 Kg target yang ditetapkan ditahun 2017 sebesar 7,06 juta MT dan telah terealisasi di semester I sebesar 3,1 Juta MT.

“Anggap 6 bulan lagi mendapat 7,15 juta kilo liter artinya kita akan dibawah target. Jadi arah dari pada pengelolaan subsidi kita semakin baik. Selain itu, perkiraan kami untuk LPG 3 Kg juga dibawah target. Diluar itu, pemerintah dalam proses mengatur subsidi LPG 3 Kg ini lebih tepat sasaran melalui Kementerian Sosial untuk melakukan program subsidi langsung yang merupakan bagian dari subsidi pada program sejahtera yang menggunakan kartu,” kata Ego.

Untuk jaringan gas rumah tangga saat ini masih dalam proses pengerjaan. Ego mengatakan, untuk target akhir 2017 mencapai 59.809 Sambungan Rumah (SR). Pemerintah juga mendorong agar BUMN dapat turut mengembangkan seperti halnya PT PGN (Persero) sebesar 1.700 SR dan PT Pertamina (Persero) sebesar 2.000 SR.

Lebih lanjut, untuk Projek BBM satu harga dari target pendirian lembaga penyalur di 150 titik yang sudah teridentifikasi di tahun 2016, sudah terbangun di 21 titik dari target sebesar 54 titik dengan total target dari tahun 2017 sampai 2019 direncanakan ada 150 titik yang akan dibangun.

“Realisasinya di tahun 2017, kita sudah membangun di 21 titik dan rata-rata berlokasi di daerah terluar seperti Sangeta Laut, Morotai, pulau Nias dan pulau Mentawai. Jadi memang prioritas kita di daerah yang sulit,” ujarnya.

Kemudian di sisi hulu migas, Ego menyampaikan belum ada peningkatan mengenai kapasitas kilang masih di angka 1,17 juta barel per hari (bph). Dirinya mengakui akan dapat merasakan peningkatan dalam 2 sampai 3 tahun kedepan dengan adanya 2 program besar yaitu grass root refinery yang merupakan pembangunan Kilang Bontang dan Kilang Tuban yang saat ini masih proses.

Namun, Ego mengatakan dampak yang lebih terasa terhadap peningkatan kapasitas kilang dari program refinery development masterplan yang ada di 4 lokasi yaitu Balikpapan, Cilacap, Dumai dan Balongan yang secara rata-rata menaikan kapasitas eksisting kilang hampir 100 ribu bph.

“Dampak yang akan terasa terhadap peningkatan kapasitas kilang kita adalah program refinery development masterplan. Jadi ada di 4 lokasi Balikpapan, Cilacap, Dumai dan Balongan. Masing-masing cukup signifikan. Secara, rata-rata menaikkan kapasitas eksisting kilang hampir 100 ribu bph dan ada yang 150 ribu bph. Kita mendapatkan sekitar kumulatif 500 ribu bph,” ujarnya.

Selain kilang, Ego juga menyebutkan implementasi dari Peraturan Menteri No. 37/2016 terkait Participating Interest (PI) 10% pada Wilayah Kerja yang saat ini progresnya ada dua proyek yaitu Mahakam untuk pemerintah Provinsi Balikpapan dan ONWJ untuk pemerintah DKI Jakarta dan pemerintah Propinsi Jawa Barat.

Lebih lanjut untuk sistem monitoring produksi minyak bumi berbasis online real time pada fasilitas produksi kegiatan usaha hulu migas dari target di 209 titik di seluruh Indonesia pemerintah sudah memasang 108 dan yang sedang dikerjakan ada 62 titik serta ada 35 titik yang belum dikerjakan.

Sedangkan untuk penerimaan negara , target pemerintah hingga akhir tahun 2017 sebesar Rp 105, 5 Triliun yang terdiri dari PNBP dan PPH sedangkan yang telah tercapai sebesar Rp 69,4 Triliun. “Jadi anggap kondisi normal tidak ada gejolak, kita bisa pertahakan lifting kita. Harga minyak dunia juga tidak terlalu terjun bebas kita harapkan ini bisa dua kali lipat,” ucap Ego. (DK-AM)