Pemerintah Optimis Kembangkan Infrastruktur Gas

Jakarta, Infrastruktur gas bumi masih feasible dikembangkan dalam jangka panjang, meski saat ini terjadi pandemi Covid-19. Permintaan gas bumi semakin meningkat, terutama setelah Pemerintah menetapkan harga gas murah untuk industri tertentu.

Optimisme tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Program Migas Soerjaningsih dalam diskusi virtual, Senin (18/5). 

Menurut Soerja, berdasarkan Neraca Gas Bumi 2020-2030, tidak ada peningkatan permintaan gas yang signifikan dalam kurun waktu tersebut yaitu hanya sekitar 300 mmscfd. Namun demikian, Pemerintah menetapkan kebijakan untuk beralih ke energi bersih, termasuk juga pembangkit listrik dari BBM ke gas. 

Selain itu, terdapat pertumbuhan kebutuhan gas dari industri, terutama pupuk dan petrokimia. Juga, pembangunan kilang minyak baru dan RDMP. 

"Ada industri-industri yang tumbuh. Apalagi harga (gas) murah yang turut mendorong permintaan," tambah Soerja.

Kebutuhan gas bumi yang terus meningkat tersebut, masih dapat dipenuhi melalui pengalihan LNG ekspor untuk memenuhi kebutuhan domestik.

"Jadi apakah pembangunan infrastruktur masih feasible? Menurut saya, sangat feasible dari sisi demand," tegasnya.

Sementara dari sisi pasokan, Indonesia memiliki banyak proyek gas yang berpeluang meningkatkan produksi gas nasional. Antara lain, Tangguh Train 3, Blok Masela dan Indonesia Deepwater Development (IDD).


Lebih lanjut Soerja mengatakan, peningkatan kebutuhan gas bumi memerlukan pembangunan infrastruktur hilir untuk mengalirkan gas hulu ke konsumen. Untuk meningkatkan kehandalan pasokan, ada 3 ruas transmisi yang direncanakan akan dibangun yaitu tie in WNTS - Pemping, Dumai-Sei Mangkei dan Cirebon-Semarang yang akan menghubungkan pipa transmisi mulai dari Aceh sampai dengan Jawa Timur.

Menteri ESDM melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 13 Tahun 2020 tentang penugasan pelaksaan penyediaan pasokan dan pembangunan infrastruktur LNG, serta konversi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan LNG dalam penyediaan tenaga listrik, juga telah menugaskan Pertamina membangun 52 mini regasifikasi di wilayah timur untuk pembangkit listrik.

Selain itu, untuk meningkatkan akses masyarakat dengan energi bersih yang lebih murah, juga direncanakan akan dibangun jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga (jargas) dengan skema KBPU sekitar 10 juta SR di 52 kabupaten/kota. (TW)