The 2nd Indonesia-India Joint Working Group on Oil and Gas

Jakarta, Untuk meningkatkan kerja sama bidang minyak dan gas bumi, Indonesia dan India menyelenggarakan acara The 2nd Indonesia-India Joint Working Group on Oil and Gas di Kementerian ESDM, Kamis (20/4). Delegasi Indonesia dipimpin oleh Prahoro Yulianto Nurcahyo, Staf Ahli Menteri ESDM bidang Investasi dan Pengembangan Infrastruktur. Sementara Delegasi India dipimpin oleh Sunjay Sudhir, Joint Secretary of Ministry of Petroleum & Natural Gas, Government of India.

Dalam rangkaian acara ini, kedua belah pihak melakukan paparan dan diskusi mengenai kebijakan baru di bidang migas, peningkatan kapasitas dan kerja sama bisnis oleh pihak swasta. Selain itu, dilakukan juga penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama dalam bidang migas yang merupakan perbaruan kerja sama sebelumnya yang telah berakhir pada 25 Januari 2016.

Mengawali sambutan pada acara tersebut, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi IGN Wiratmaja Puja mengatakan, pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo ke India pada bulan Desember 2016 serta kelanjutan dari The 1st Indonesia-India Joint Working Group on Oil and Gas yang dilakukan di Bali pada 4-5 Juni tahun 2012. “Pertemuan bilateral ini juga menunjukkan keseriusan kedua negara dalam meningkatkan kerja sama di sektor energi serta ketahanan energi,” kata Wirat.

Lebih lanjut Wirat mengatakan, terkait kebijakan migas di Indonesia, saat ini Indonesia merupakan negara produsen sekaligus konsumen. Produksi minyak Indonesia sekitar 830.000 barel per hari, sementara kebutuhan mencapai dua kali lipat. Untuk memenuhi kebutuhan, Pemerintah Indonesia melakukan impor bahan bakar minyak (BBM). Impor juga dilakukan pada bahan bakar LPG.

Untuk meningkatkan produksi migas, Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan eksplorasi dan eksploitasi migas melalui penawaran wilayah kerja migas baru dan kebijakan bagi hasil gross split. Dalam kesempatan itu, Wiratmaja menawarkan investor India untuk ambil bagian dalam pengembangan migas di Indonesia. Selain di hulu migas, kesempatan investasi di hilir migas juga terbuka lebar. Misalnya dalam pembangunan gas pipa, kilang mini serta proyek lainnya.

Sementara Sunjay Sudhir menyampaikan, saat ini India masih tergantung pada impor migas dan menargetkan akan mengurangi hingga 10% pada tahun 2020. Konsumsi energi India pada tahun 2035 diperkirakan akan mencapai 3 kali lipat di mana pada tahun 2014 konsumsinya mencapai 666,2 Mtoe.

India memiliki banyak kilang dengan total kapasitas 230,1 MMTPA di mana 80 MMTPA diantaranya dimiliki oleh swasta. Kapasitas yang besar ini menjadikan kilang India terbesar kedua di Asia. Di sisi lain, India juga tercatat sebagai importir LNG ke 4 di dunia tahun 2015.

Sunjay Sudhir juga menyampaikan bahwa negaranya mengembangkan gas metana batu bara (CBM) sebagai tambahan sumber energi dan berkomitmen terhadap perubahan iklim.

Di akhir pertemuan, kedua negara sepakat untuk bekerja sama, antara lain berbagi pengalaman terkait reformasi subsidi LPG yang dilakukan oleh India, berkolaborasi dalam pembangunan FSRU dan optimalisasi LNG untuk meminimalisir harga serta menjajaki kemungkinan kerja sama di hulu migas dengan menggunakan skema gross split.

Selain itu, akan dilakukan kerja sama dalam pemurnian teknologi, peningkatan kapasitas, gas untuk pembangkit listrik, pembangunan gas kota, serta konversi BBM ke gas untuk truk, kapal laut dan kereta api. (TW/DK)