Tentukan Kebutuhan LNG, Pemerintah Revisi Neraca Gas

Jakarta, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, tahun 2017 hingga 2018, masih banyak produksi gas alam cair (LNG) Indonesia yang belum terserap (uncommitted cargo). Untuk mengetahui perlu tidaknya dilakukan impor LNG serta menentukan kebutuhan FSRU di masa mendatang, Pemerintah terlebih dahulu akan merevisi Neraca Gas Indonesia (NGI).

“Untuk tahun ini dan tahun depan, kita masih banyak uncommitted cargo (LNG) di dalam negeri. Saya dengan dirjen migas sedang mengusahakan akan memperbaiki neraca gas kita untuk tahun-tahun ke depan, biar angka yang ada bisa dipercaya sehingga ke depan kita bisa memprediksi apakah perlu mengimpor LNG dari luar atau tidak. Apakah juga LNG kita cukup untuk memenuhi kebutuhan gas di dalam negeri,” ujar Wamen dalam kunjungan kerjanya ke FSRU Jawa Barat milik PT Nusantara Regas di Teluk Jakarta, Kamis (19/10).

Arcandra melanjutkan, berdasarkan perencanaan yang ada, Indonesia memerlukan beberapa FSRU untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Mengingat pengguna terbesar gas alam cair adalah PT PLN, maka pembangunan FSRU harus disesuaikan dengan rencana yang disusun PLN. “Kira-kira berapa kebutuhannya, sedang dibicarakan dengan PLN. Sebelum kita bicara berapanya lagi (FSRU), kita bicara dulu neraca gas diperbaiki biar lebih akurat,” tambahnya.

Direktur Utama Nusantara Regas Tammy Meidharma dalam kesempatan yang sama menyampaikan, pelanggan terbesar Nusantara Regas adalah PT PLN. Meski demikian, perusahaannya juga mempersiapkan diri untuk mendukung pemenuhan gas sektor industri, khususnya wilayah Jawa bagian Barat.

FSRU Nusantara Regas sejak dioperasikan tahun 2012, mampu memasok gas sebesar maksimum 500 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk 3 pembangkit listrik yaitu PJB Muara Karang, IP Tanjung Priuk dan PJB Muara Tawar. Pasokan gas FSRU didapatkan dari Kilang LNG Bontang dan Tangguh. LNG dengan suhu minus 160 C dibawa dengan kapal LNG untuk kemudian disimpan dalam FSRU dan diregasifikasi dengan media Propane sampai menjadi gas.

Pada tahun 2017, Nusantara Regas memperkirakan penyaluran LNG hingga 28 kargo atau setara 225 BBTUD untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik PLN di Teluk Jakarta dan industri di area Jawa bagian Barat. Jumlah ini 4% di atas target tahun 2017. (TW)