Presiden Ingin Kebutuhan BBM Dipenuhi Kilang Dalam Negeri

Indramayu, Presiden Joko Widodo berharap agar kebutuhan BBM yang saat ini mencapai 1,65 juta KL per hari, secepat mungkin dapat dipenuhi dari kilang di dalam negeri. Hal ini sangat penting bagi ketahanan energi nasional.

"Bapak Presiden minta untuk dalam waktu sesegera mungkin, itu refinery di dalam negeri harus bisa memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri. Ini belum masuk strategic reserve, ini baru operasional reserve ," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dalam sambutannya pada acara Groundbreaking Pembangunan Fasilitas Submarine Pipe Line (SPL) dan Single Point Mooring (SPM) di Kilang Pertamina Refinery Unit VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (16/2).

Upaya untuk meningkatkan ketahanan energi di dalam negeri, antara lain melalui mega proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dengan nilai investasi US$ 1,2 miliar dan pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery) yang ditargetkan akan meningkatkan kapasitas kilang nasional menjadi 2 juta barel per hari pada tahun 2023. Proyek RDMP dilakukan di Kilang Balongan, Cilacap, Balikpapan, dan Dumai. Sedangkan NGRR ditetapkan di Tuban dan Bontang.

Dalam kesempatan itu, Jonan meminta Menteri Negara BUMN Rini Soemarno dapat mendorong agar program RDMP dapat berjalan dengan baik. "Tidak mungkin setahun bisa (terbangun). Tapi ini kalau tidak dilakukan, ya tidak jadi-jadi. Mungkin ini jadinya 4 tahun, 5 tahun, tapi jadilah," imbuhnya.

Selain itu, untuk mempercepat dan memudahkan pembangunan kilang di dalam negeri, Pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 35 tahun 2016 tentang Pembangunan Kilang oleh Swasta.

Tak hanya memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Pemerintah juga akan membangun cadangan minyak strategis yang diharapkan dalam bentuk minyak mentah, mengingat cadangan operasional BBM sudah berbentuk BBM. Diakui Jonan, di banyak negera, cadangan strategisnya merupakan campuran antara BBM dan minyak mentah atau crude. Misalnya di Amerika yang produksi kilangnya lebih besar dari kebutuhan dalam negeri. (TW)