Dijadikan Pusat Ilmu Kemigasan, Museum Gawitra Segera Direvitalisasi

Jakarta, Tak hanya mengembangkan industri migas nasional, Pemerintah juga berkeinginan meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat, terutama anak-anak mengenai seluk-beluk minyak dan gas bumi. Untuk itu, Pemerintah berencana akan segera merevitalisasi.Museum Minyak dan Gas Bumi Graha Widya Patra (Gawitra) yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Terkait hal tersebut, Pelaksana Tugas Dirjen Migas IGN Wiratmaja didampingi Sesditjen Migas Hufron Asrofi dan Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Naryanto Wagimin, meninjau kondisi Museum Gawitra, Rabu (25/3). Diawali dengan makan pagi bersama dengan para pengurus museum, Wiratmaja dan rombongan berkesempatan meninjau fasilitas dan kondisi gedung museum yang cukup memprihatinkan.

Menurut dia, Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki cadangan migas yang cukup besar, seharusnya memiliki museum yang dibanggakan serta dapat menjadi sarana belajar bagi anak-anak, masyarakat umum juga bagi pengunjung dari luar negeri yang ingin mengetahui sejarah dan perkembangan migas di Indonesia.

"Museum ini harus kita revitalisasi supaya menjadi salah satu landmark untuk anak-anak bisa belajar bagaimana sih industri minyak dan gas. Tempat mereka belajar, tambah knowledge, tambah pengetahuan. Juga menambah wawasan dan tidak takut terhadap migas," ucapnya.

Pada saat ini, lanjut Wiratmaja, sebagian anak-anak merasa takut jika berada di dekat SPBU atau tabung gas. Ketakutan ini bisa diminimalisir dengan cara memperkenalkan sistem keamanan dalam kegiatan migas.

Agar lebih menarik perhatian pengunjung, fasilitas museum juga harus dilengkapi dan dimodernisasi. Peralatan yang sekarang ini berada di museum, sudah banyak yang rusak dan sebagian besar berbentuk tidak bergerak sehingga terkesan membosankan.

"Seharusnya (peralatan) itu yang bisa dipegang, dimainkan dan digerakkan anak-anak sehingga lebih menarik," tambahnya.

Selain menambah jumlah peralatan di dalam museum, Wiratmaja juga berencana menambah fasilitas perpustakaan dan memanfaatkan teknologi hologram dan tayangan tiga dimensi.

Biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki museum, diperkirakan sekitar Rp 10 miliar. Pemerintah meminta agar stakeholder di bidang hulu dan hilir migas dapat membantu pendanaannya.

"Selama ini ada pemasukannya, tapi kecil sekali. Tidak cukup untuk pemeliharaannya. Nanti kita akan ajak stakeholder duduk bersama, supaya membantu agar kita memiliki museum yang bagus," papar Wiratmaja.

Diharapkan revitalisasi museum dapat dilakukan tahun ini dan rampung awal tahun 2016. (TW)