Cegah Pemanasan Global, Kementerian ESDM Selenggarakan Seminar International CCS-CCUS

Jakarta, Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) merupakan salah satu jawaban atas peran serta industri energi dalam mencegah pemanasan global. Namun demikian, implementasi CCS-CCUS masih memerlukan kajian baik aspek teknis maupun non teknis. Dalam rangka mengeksplorasi peluang dan tantangan implementasi CCS-CCUS, Ditjen Migas Kementerian ESDM bekerja sama dengan Indonesian Center of exellence (CoE) of CCS-CCUS (ITB dan PPTMGB Lemigas), menyelenggarakan Seminar International CCS-CCUS Seminar: From Technical to Non-Technical Aspects di Hotel Sari Pan Pasific, Rabu (7/2).

Kegiatan ini didukung oleh Ministry of Economic, Trade and  Industry (METI) of Japan, Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Asian Development Bank (ADB). Seminar ini dihadiri pula oleh Kepala Pusat PPTMGB Lemigas Patuan Alfons, Prof.. Wawan gunawan A. Kadir dari ITB, Nakayama dari METI dan Ryoya Fuse mewakili JICA serta  I Gusti Suarnaya  Sidemen, Kepala Sub Direktorat Keteknikan dan Keselamatan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi Ditjen Migas. Selain itu,  wakil kementerian terkait, kepala teknik KKKS serta akademisi lainnya.

Seminar sehari ini dibuka oleh Satry Nugraha, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang, mewakili Pelaksana Tugas Dirjen Migas Ego Syahrial. Dalam sambutannya Satry mengungkapkan, Pemerintah Indonesia, seperti yang dikemukakan Presiden Joko Widodo pada COP 2015 di Paris, berkomitmen mengurangi emisi rumah kaca hingga 29% pada tahun 2030. Dengan dukungan internasional, pengurangannya ditargetkan mencapai 41%. Pemerintah melalui Ditjen Migas berperan untuk memastikan bahwa komitmen tersebut dapat tercapai.

Dikatakan Satry,  CCS-CCUS merupakan  teknologi yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan dari penggunaan bahan bakar fosil dalam pembangkit tenaga listrik dan proses industri termasuk sektor migas. “Kami sepenuhnya mendukung implementasi CCS-CCUS di sektor migas. Teknologi ini sangat dibutuhkan dalam pengembangan ladang migas yang mengandung gas CO2 tinggi seperti gas dari lapangan gas Natuna Timur,” papar Satry.

Sebagai proses pembelajaran CCS-CCUS, Kementerian ESDM  sedang mempersiapkan Pilot Project CCS di Lapangan Gundih, Jawa Tengah,  bekerjasama dengan Pertamina. Proyek percontohan ini, akan didanai antara lain oleh hibah ADB dan JICA.  Indonesia terus berupaya bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kemampuan i dalam melakukan CCS dan CCUS. 

Dalam kesempatan tersebut  Satry juga menjelaskan, Kementerian ESDM   telah membentuk National CoE CCS-CCUS yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lemigas yang menggabungkan pusat penelitian dan jejaring. Sebagai pusat penelitian,  National CoE CCS-CCUS akan melakukan penelitian teknologi cross cutting. Sementara sebagai pusat jaringan, National CoE CCS-CCUS akan menghubungkan kebutuhan dan kemampuan stakeholder agar memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai CCS-CCUS.

“National CoE di CCS-CCUS hampir menyelesaikan studi kelayakan dan pekerjaan teknik dari proyek percontohan CCS di Lapangan Gundih. Langkah selanjutnya adalah finalisasi mitigasi risiko injeksi dengan baik dan proses pengadaan akan segera dimulai,” tambah Satry.  Menurut dia, CoE Nasional CCS-CCUS telah bekerja keras melakukan penelitian tentang studi kelayakan, dampak sosial dan lingkungan, kerangka peraturan, identifikasi risiko dan mitigasi. Karya-karya yang telah selesai akan dipresentasikan pada seminar ini.  “”Saya berharap seminar hari ini akan memberi informasi kepada stakeholder  di Indonesia tentang penerapan CCS-CCUS mengenai aspek teknis seperti proyek CCS di Jepang, Amerika Serikat, India, dan aspek non-teknis seperti masalah peraturan, strategi kebijakan dan skenario untuk jangka panjang CCS-CCUS,” harap  Satry.  

Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang berupaya  menjaga dan memperbaiki produksi migas dengan mengoptimalkan produksi lapangan yang ada, menjajaki cadangan baru untuk eksplorasi, serta meningkatkan produksi minyak nasional melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).  Teknologi EOR sangat penting  bagi Indonesia karena kebanyakan lapangan migas Indonesia telah berumur tua. Aplikasi teknologi EOR diperlukan dalam mendukung peningkatan cadangan migas di masa depan dan menjadi  alternatif dalam meningkatkan produksi migas.  Indonesia memiliki potensi besar untuk menerapkan EOR. 

Untuk mendukung peningkatan pemanfaatan energi yang ramah lingkungan, Pemerintah membangun infrastruktur gas seperti seperti gas kota, diversifikasi energy dari bahan bakar minyak ke gas di sektor transportasi juga program zero flare di lapangan migas.  

Tema-tema yang dibahas dalam seminar ini, antara lain kebijakan dan rencana jangka panjang pembangunan CCS di Jepang dan Asia, pemaparan perkembangan  Pilot Project CCS di Lapangan Gundih serta  perkembangan proyek CCS-CCUS di negara-negara lain. (TW)