Margin Distribusi BBM Bersubsidi Dikurangi

Dirjen Migas pada  Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luluk Sumiarso mengatakan pemerintah akan membela Pertamina sebagai perusahaan nasional, namun tidak akan membabi buta.

"Kita membela Pertamina sebagai perusahaan nasional untuk mendapatkan hak 15% dari setiap kontrak migas baru yang ditandatangani. Namun kita harus bersikap adil. Karena itu, kami akan menetapkan alfa distribusi tahun depan sebesar 13,5%," ujarnya saat menjelaskan rencana perhitungan pengadaan dan penyaluran BBM bersubsidi tahun depan.

Rencananya volume BBM yang disubsidi tahun depan mengalami peningkatan menjadi 37,9 juta kiloliter dari 36,91 juta kiloliter pada 2007.

Pengadaan dan penyaluran BBM bersubsidi dihitung berdasarkan harga Mid Oil Platt#s Singapore (MOPS) ditambah alfa yaitu margin distribusi.

Tahun ini, Pertamina mendapatkan dana subsidi BBM termasuk margin hingga Rp 61,84 triliun sesuai yang tercantum dalam APBN 2007. Angka itu lebih tinggi dari subsidi APBN 2006 yang hanya Rp 54,6 triliun, di mana seluruhnya disalurkan melalui Pertamina.

Upaya pemangkasan margin distribusi BBM bersubsidi, lanjut Luluk, merupakan langkah tegas pemerintah mengurangi biaya subsidi BBM yang berdasarkan kebijakan pemerintah harus dikurangi perlahan-lahan dengan cara tidak menaikkan harga BBM.

"Dengan adanya pengurangan margin distribusi, maka subsidi yang dibayar pemerintah juga menjadi lebih rendah, cukup signifikan untuk mengurangi nilai subsidi yang harus dibayar pemerintah," jelas Dirjen Migas.

Tahun depan, pemerintah berencana menurunkan subsidi BBM hingga 43,11% menjadi Rp 35,15 triliun dibandingkan tahun ini Rp 61,84 triliun.

Meski subsidi BBM turun yang sangat signifikan dibandingkan dengan tahun ini, pemerintah belum mengajukan rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi maupun tarif dasar listrik.

Penurunan angka subsidi BBM tahun depan disebabkan oleh asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang turun menjadi US$ 54 per barel dari ICP yang dipatok dalam APBN 2007 sebesar US$ 63 per barel.

"Asumsi harga minyak US$ 54 per barel, tapi itu bisa berubah. Kalau asumsinya berubah, maka seluruhnya jadi berubah," ujarnya.

Rendahnya ICP juga membuat pendapatan negara dari minyak bumi tahun ini diprediksi turun 12,7% menjadi Rp 119 triliun dari Rp 136,4 triliun pada 2006. Padahal investasi tahun ini diperkirakan naik 28,5% menjadi US$ 18,2 miliar dibandingkan tahun lalu yang hanya US$ 14,3 miliar.

Tahun depan, pendapatn negara dari minyak bumi juga diprediksi menurun hingga 26,9% menjadi hanya Rp 99,7 triliun. (Sumber: Bisnis Indonesia)